Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!
Thursday, October 17, 2019
Sunday, October 13, 2019
SOAL PERBAIKAN SEJARAH INDONESIA KELAS X
silakan ketik link dibawah ini untuk mengikuti kegiatan perbaikan ulangan sejarah...
terimakasih
https://forms.gle/4HxQR8vmj5PCXnMS6
Monday, October 7, 2019
SOAL ULANGAN SEJARAH KELAS XII
PENILAIAN BERSAMA MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA
SMA NEGERI 2 GUNUNGPUTRI BOGOR
SMA NEGERI 2 GUNUNGPUTRI BOGOR
Dimohon untuk mengklik link dibawah ini untuk mengerjakan soal-soal Penilaian Harian Bersama Sejara Indonesia :
Tuesday, September 24, 2019
PEMBAGIAN ZAMAN DALAM PRASEJARAH
TUGAS ARTIKEL PENULISAN SEJARAH
3. PEMBAGIAN ZAMAN DALAM PRASEJARAH
3. PEMBAGIAN ZAMAN DALAM PRASEJARAH
Monday, September 23, 2019
Saturday, September 21, 2019
LETNAN JENDERAL TNI ANUMERTA MAS TIRTODARMO HARYONO

Nama Lengkap : Mas Tirtodarmo Haryono
Alias : Tirtodarmo Haryono | M.T. Haryono
Tempat Lahir : Surabaya
Tanggal Lahir : Minggu, 20 Januari 1924
Agama : Islam
Warga Negara : Indonesia
Meninggal : Jakarta, 1 Oktober 1965
Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Pekerjaan : TNI AD
Masa Dinas : 1945 - 1965
Penghargaan sipil : Pahlawan Revolusi
Alias : Tirtodarmo Haryono | M.T. Haryono
Tempat Lahir : Surabaya
Tanggal Lahir : Minggu, 20 Januari 1924
Agama : Islam
Warga Negara : Indonesia
Meninggal : Jakarta, 1 Oktober 1965
Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Pekerjaan : TNI AD
Masa Dinas : 1945 - 1965
Penghargaan sipil : Pahlawan Revolusi
Letnan Jenderal
TNI Anumerta
Mas Tirtodarmo Haryono merupakan salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur
dalam tragedi di G30S/PKI. Beliau meninggal pada umur 41 tahun dan dimakamkan
di Taman Pemakaman Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Sikap teladan yang bisa kita ambil dari Tirtodarmo Haryono adalah patriotisme yaitu sikap siap
dan sedia berkorban segala – galanya demi kejayaan serta kemakmuran Negara atau
tanah air yang ia cintai, keberanian, mementingkan kepentingan bersama, pantang
menyerah, menjunjung tinggi persatuan, nasionalisme tinggi, dan berjiwa besar.
Ø APRESIASI PEMERINTAH KEPADA LETNAN
JENDERAL TNI ANUMERTA MAS TIRTODARMO HARYONO
h
PERANGKO MAS TIRTODARMO
HARJONO KELUARAN TAHUN 1966
Ø SUDUT
PANDANG DARI LETNAN JENDERAL TNI ANUMERTA MAS TIRTODARMO HARYONO
Letnan
Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono atau biasa dikenal sebagai MT
Haryono adalah salah satu dari tujuh pahlawan revolusi Indonesia yang meninggal
pada tragedi lubang buaya. Pada masa pendudukan Belanda di Indonesia, MT
Haryono sempat memperoleh pendidikan di berbagai tempat.
Yang
pertama adalah di ELS, pendidikan setingkat sekolah dasar bentukan Belanda. MT
Haryono juga sempat melanjutkan sekolah di HBS, pendidikan setingkar sekolah
umum. Kemudian beralih ke masa pendudukan Jepang, MT Haryono sempat
disekolahkan ke Ika Dai Gakko, sebuah sekolah kedokteran pada masa pendudukan
Jepang, tetapi tidak sampai seesai.
Letnan
Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono adalah seseorang yang sangat
menjadi panutan untuk generasi selanjutnya dengan sikap keberanian dan pantang
menyerahnya. Dalam kehidupannya sehari – hari beliau juga hidup sederhana
walaupun ia orang yang berada. Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo
Haryono juga dikenal sebagai pemimpin yang keras kepala dan penyabar. Walaupun
ia keras kepala, tetapi ia tetap tegas dalam memimpin. Letnan Jenderal TNI
Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono patut di contoh dan diteladani dalam kehidupan
sehari – hari sebagai pemuda Indonesia.
SANG JURU SELAMAT JENDERAL AHMAD YANI
PERJUANGAN TOKOH PAHLAWAN REVOLUSI :
Ketika Indonesia dijajah Jepang yakni pada tahun 1942, Ahmad Yani mendaftar untuk mengikuti pendidikan Heiho di Magelang, Jawa Tengah. Beliau lalu bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) daerah cabang Bogor. Semasa perang kemerdekaan, Ahmad Yani juga banyak ikut andil. Jasa-jasanya adalah seperti beliau berhasil menyita senjata Jepang yang berada di Magelang. Ketika TKR lahir, beliau dijadikan Komandann TKR untuk wilayah Purworejo. Pada saat Belanda melancarkan Agresi Militernya ke indonesia yang pertama, Ahmad Yani bersama pasukan berhasil membendung serangan Belanda di daerah Pingit. Ketika Agresi yang ke dua, beliau juga diorbitkan dengan diangkat menjadi Komandan Wehrkreise II untuk menjaga daerah Kedu. Ketika pemberontakan DI/TII meletus, Ahmad Yani ditugasi untuk mengatasi pemberontakan itu di daerah Jawa Tengah. Bersama pasukan Benteng Raiders, akhirnya DI/TII berhasil dikalahkan. Setelah tugas itu selesai, beliau kembali ke Staf Angkatan Darat. Untuk lebih memperdalam ilmunya di bidang militer, pada 1955 Ahmad Yani diberangkatkan ke Amerika guna menempuh pendidikan di Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA selama sembilan bulan. Setahun kemudian beliau melanjutkann sekolah militer selama dua bulan di Inggris mengambil Spesial Warfre Course. Ketika terjadi pemberontakan PRRI di Sumatra Barat pada tahun 1958, Ahmad Yani yang saat itu berpangkat Kolonel didaulat menjadi Komandan Komando Operasi 17 Agustus yang kemudian memimpin penumpasan pemberontakan tersebut. Karena jasa dan prestasi beliau, pada tahun 1962, Ahmad Yani diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat.
Menjadi Target G30S/PKI
Dalam pandangan politik, Ahmad Yani tidak setuju dan selalu berseberangan dengan PKI. Ketika PKI berusaha untuk membentuk angkatan ke 5 yang terdiri dari buruh tani yang dipersenjatai, Ahmad Yani langsung menolaknya. Inilah yang menjadi alasan hingga beliau dimasukkan dalam target penculikan dan pembunuhan oleh PKI tahun 1965. Bersama dengan ke tujuh perwira Angkatan Darat lainnya, beliau diculik dan dibunuh lalu mayatnya dimasukkan kedalam sumur tua di daerah Lubang Buaya melalui operasi pemberontakan G30 S/PKI. Kronologinya, ketika dinihari tanggal 1 Oktober, Ahmad Yani ditembak di depan kamar tidurnya. Setelah dilakukan pencarian pada keesokan harinya, Jenazah Ahmad Yani kemudian dimakamkan secara hormat di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Beliau bersama ketujuh perwira yang menjadi korban keganasan PKI kemudian dinamai sebagai Pahlawan Revolusi dan pangkatnya dinaikkan secara Anumerta yang awalya Letnan menjadi Jendral.
SIKAP TELADAN TOKOH PAHLAWAN REVOLUSI :
Keberanian Jenderal Ahmad Yani menjadi seorang pejuang
Keinginan kuat untuk bersekolah
Semangatnya yang tinggi membela Negara
Cinta tanah air Rela berkorban
APRESIASI PEMERINAH UNTUK JENDERAL AHMAD YANI : Jenderal Ahmad Yani dinyatakan Pahlawan dari Revolusi dengan Keputusan Presiden Nomor 111/KOTI/1965
SUDUT PANDANG KELOMPOK
Jenderal Ahmad Yani adalah seseorang yang sangat menjadi panutan untuk generasi selanjutnya dengan sikap pantang menyerah dan bertanggungjawabnya, Jenderal Ahmad Yani pun sangat dikenal sebagai Pahlawan Revolusi dengan keberaniannya melawan musuh. Beliau punya semangat tinggi dalam mengejar prestasi dan pendidikan.
Pangeran dalam Republik
Nama
kecil : Gusti Raden Mas Dorojatun
TTL : Ngayogyakarta Hadiningrat, 12 April 1912
Ayah :
Sri Sultan Hamengku Buwono VIII
Ibu :
Raden Ajeng Kustilah (Kanjeng Ratu Alit)
Agama : Islam
Wafat : Washington DC, 2 Oktober 1988
Nama Sri Sultan Hamengkubuwono tentu saja tak terasa
asing di telinga. Aura kebangsawaan mengalir kuat dalam gelar bagi Raja-Raja
Kasultnan Yogyakarta ini. Namun, nama Sri Sultan Hamengkubuwono ke-9 agaknya berbeda
dari yang lainnya. Beliau, dengan segala kepiawaiannya, rela ikut serta dalam
membangun pondasi bangsa. Beliau adalah sosok Pangeran dalam Republik.
Gusti Raden
Mas Dorojatun, demikian nama yang disandang beliau ketika kecil. Dilahirkan
pada tanggal 12 April 1912, beliau adalah anak kesembilan Sri Sultan Hamengku
Buwono VIII dari istri kelimanya, Raden Ajeng Kustilah atau Kanjeng Ratu Alit.
Pada 18
Maret 1940, beliau dinobatkan sebagai putra mahkota. Di hari pelantikan
tersebut beliau berpidato dan mengeluarkan kalimat yang dikenang oleh semua
orang hingga saat ini, “Saya memang berpendidikan barat, tapi pertama-tama saya
tetap orang Jawa”.
Ketika kemerdekaan
Indonesia diproklamirkan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX segera mengambil sikap
dengan mengirim telegram ucapan selamat kepada para proklamator. Dua minggu
setelahnya, tepatnya tanggal 5 September 1945, beliau bersama Paku Alam VIII,
mengeluarkan maklumat yang menyatakan bahwa daerah Yogyakarta adalah bagian
dari wilayah Republik Indonesia.
Peran Sri
Sultan Hamengkubuwono IX terhadap bangsa juga ditunjukkan melalui dukungan
finansial. Selama pemerintahan republik berada di Yogyakarta, segala urusan
pendanaan diambil dari kas keraton. Sri
Sultan Hamengkubuwono IX sendiri tidak pernah mengingat-ingat berapa jumlah
yang sudah dikeluarkan. Bagi beliau hal ini sudah merupakan bagian dari
perjuangan. Bahkan beliau memberi amanat kepada penerusnya untuk tidak
menghitung-hitung apalagi meminta kembali harta keraton yang diberikan untuk
republik tersebut.
Sejarah
mencatat bahwa perjuangan Indonesia menuju bentuknya saat ini mengalami
fase pasang surut. Di ujung berakhirnya era Orde Lama, ketika Soeharto
mengambil alih kendali pemerintahan, kepercayaan negara-negara dunia kepada
Indonesia sedang berada di titik terendah. Di saat seperti ini, Sri Sultan
Hamengku Buwono IX pun menyingsingkan lengan bajunya, keliling dunia untuk
meyakinkan para pemimpin negara-negara tetangga bahwa Indonesia masih ada, dan
beliau tetap bagian dari negara itu. Dengan demikian kepercayaan internasional
pelan-pelan dapat dipulihkan kembali.
Seiring
perjalanan Republik Indonesia sebagai negara, Sri Sultan Hamengkubuwono IX
telah mengabdikan diri dalam berbagai posisi. Selain menjadi pejuang pejuang
kemerdekaan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX tercatat sebagai Menteri Negara dari
era Kabinet Syahrir hingga Kabinet Hatta I (1946 – 1949). Di masa kabinet Hatta
II hingga masa RIS (1949 - 1950) beliau menjabat Menteri Pertahanan. Dan
menjadi Wakil Perdana Menteri di era Kabinet Natsir (1950 -1951). Beliau masih terus menjabat
berbagai jabatan di tiap periode hingga pada tahun 1973 menjadi Wakil Presiden
Republik Indonesia yang kedua. Jabatan tersebut diemban sampai pada tanggal 23
Maret 1978, ketika beliau menyatakan mengundurkan diri.
Tepat
tanggal 2 Oktober 1988 malam, ketika beliau berkunjung ke Amerika, Sri Sultan
Hamengkubuwono IX menghembuskan nafas terakhirnya di George Washington
University Medical Center. Beliau kemudian dimakamkan di Kompleks Pemakaman
Raja-raja di Imogiri, sdiiringi oleh lautan massa yang ikut berduka. Pada saat
itu, pohon beringin Kyai Wijayandaru di Alun-alun Utara,
mendadak roboh, seakan pertanda duka yang mendalam.
Sri Sultan
Hamengkubuwono IX merupakan sosok pemimpin yang kharismatik. Beliau adalah sosok
yang tenang, rendah hati, dan bebas dari ego duniawi. Sikapnya dalam memimpin
rakyat serta ikut andil dalam membangun Indonesia menunjukkan bahwa beliau
adalah sosok yang adil, rela berkorban, dan totalitas dalam menjalankan
tugasnya. Teladan dan semangat nasionalis,
cinta demokrasi, menghargai budaya, dan keberpihakan terhadap masyarakat kecil
adalah contoh yang mesti dihidupi oleh generasi muda dewasa ini.
Dengan banyaknya sumbangsih yang beliau berikan bagi
bangsa dan negara, sosok Sri Sultan Hamengkubuwono IX dianugerahi gelar
Pahlawan Nasional oleh Presiden Megwati Soekarnopoetri di tahun 1990. Beliau
juga ditetapkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia berkat perannya dalam Gerakan
Pramuka Indonesia.
Berbagai
cara dilakukan untuk mengingatnya. Diantaranya sosoknya diabadikan dalam uang pecahan Rp. 10.000 emisi
1992. Sayangnya, uang ini sudah berhenti dicetak pada tahun 1998. Beliau pun
dibuatkan patung di Bangsal Kesatriyan Keraton Yogyakarta. Selain itu, namanya
juga diabadikan menjadi nama jalan di berbagai daerah di Nusantara, diantaranya
di Jakarta Utara, dan Tulangbawang barat, Lampung
Tanggapan Kami
Sri Sultan Hamengkubuwono
IX merupakan sosok pemimpin yang dapat diteladani bagi kita. Sikapnya dalam
memimpin rakyat serta ikut andil dalam membangun Indonesia menunjukkan bahwa
beliau adalah sosok yang adil, rela berkorban, dan totalitas dalam menjalankan
tugasnya. Ia memiliki sikap semangat
nasionalis, cinta demokrasi, menghargai budaya, dan keberpihakan terhadap
masyarakat kecil adalah contoh yang mesti dihidupi oleh generasi muda, para
pemimpin di masa depan.
Perjuangan Sultan HB IX juga mendapat apresiasi yang
sangat tinggi dari pemerintah. Memang sepantasnya begitu, mengingat banyaknya
sumbangsih yang beliau berikan bagi bangsa.
Artikel
ini disusun oleh :
Kelompok 4
Yohanes Canon, Ilyasa
Adam, Akbar Riza, Rania Khayru H,
Bara Di Balik Jeruji Belanda
Opu Daeng Risaju
Nama : Famajjah
Lahir : Palopor, 1880
Wafat : 10 Februari 1964
Ayah : Muhammad Abdullah to Barengseng
Ibu : Opu Daeng Mawellu
Suami : Haji Muhammad Daud
Wafat : 10 Februari 1964
Opu Daeng Risadju merupakan pejuang wanita asal
Sulawesi Selatan yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Opu Daeng Risaju itu
sendiri merupakan gelar kebangsawanan Kerajaan Luwu yang disematkan pada
Famajjah yang merupakan anggota keluarga bangsawan Luwu.
Beliau merupakan sosok yang pantang menyerah, karena
tujuan Opu Daeng Risaju hanya satu, ia ingin membebaskan tanah dan rakyat di
tempat tinggalnya dari kekuasaan Belanda. Ia menyebarkan semangat merdeka itu
ke seluruh lapisan masyarakat di Malangke dan Palopo.
Usahanya ini sukses mendapat banyak simpati
dari masyarakat. Sayangnya tidak dengan orang-orang di dalam kerajaan. Saudara-saudaranya
dikerajaan menuduh bahwa dirinya menghasut masyarakat untuk membenci
pemerintahan.
Dengan tidak memikirkan tentang gelar
kebangsawanannya, menurutnya gerakan menyebarkan syarekat islam lebih penting
dari gelar kebangsawanannya. Opu Daeng
Risaju pernah berkata “Kalau hanya karena adanya darah bangsawan mengalir dalam
tubuhku sehingga saya harus meninggalkan partaiku dan berhenti melakukan
gerakanku, irislah dadaku dan keluarkanlah darah bangsawan itu dari dalam
tubuhku, supaya datu dan hadat tidak terhina kalau saya diperlakukan tidak
sepantasnya,” Opu Daeng Risaju berapi-api menjawab Datu Luwu Andi Kambo yang
mencoba membujuk Opu Daeng Risaju untuk meninggalkan partainya.
Setelah Opu Daeng Risaju terbebas dari penjara.
Ia kembali aktif di PSII dan masih berkobar api semangatnya itu untuk melawan
para penjajah. NICA datang ke Sulawesi, ia pun mencium ancaman berbahaya. Iapun
langsung menggerakkan para pemuda di tanah tempat tinggalnya untuk bersiap
melakukan perlawanan terhadap tentara NICA. Perempuan berdarah bangsawan dari
Kerajaan Luwu ini berada di barisan depan, melawan para penjajah yang kembali.
Ia selalu ikut berjuang sebagai rakyat untuk
melawan kolenial belanda yang ingin menguasai indonesia, namun dia tertangkap
oleh NICA ditempat persembunyiaannya dann sampai akhir hayat nyaa iaa selalu
menimpa musibah.
Opu daeng risadju bisa menjadi inspirasi kita,
walau sudahh banyak konflik yang menimpanyaa dan walau umurnya sudahh tidakmuda
lagi ia tetap membela indonesia dan memperjuangkan agamanyaa.
Opu Daeng Risadju merupakan Pejuang wanita yang
mempunyai jiwa kepahlawanan serta tidak mudah menyerah dan berani dalam
memperjuangkan bangsa indonesia, memiliki sikap rendah hati dan selalu
berpegang teguh terhadap tata cara kehidupan bangsawan baik dalam istana maupun
diluar istana.
Pada tanggal 3 November 2006 ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dan diberikan
Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana oleh pemerintah.
~ Terimakasih Telah Membaca ~
Dibuat oleh:
Berdasarkan foto diatas : Dipika Syaiban Ainun, Amelia Putri , Sabrina
Putrinda Jalasena ,Evan Raja Parman
Subscribe to:
Posts (Atom)













